Read more: http://dapur-tutorial.blogspot.com/2012/03/cara-memasang-meta-tag-pada-blog.html#ixzz24qHjaxoE

MENJADI MANUSIA ANTAR BUDAYA




PEMBAHASAN

A.    Batasan dan Peranan Manusia Antar Budaya
Konsep manusia budaya sangat penting , dimana kemajuan tknologi juga mendukung untuk kita mengenal lebih luas tentang budaya lain. Perkembangan jaringan komunikasi dan meningkatnya jumlah orang yang berkunjung dan menetap telah menumbuhkan kesadaran akan perlunya memahami budaya orang lain. Keberhasilan seorang diplomat, pegawai, pengusaha, tidak lepas dari penguasaan dalam mengatasi masalah budaya. Mereka yang dapat mengatasi masalah budaya secara efektif inilah baik dalam konteks nasional (hubungan antar manusia yang berbeda budaya dalam suatu negara) ataupun terlebih lagi dalam konteks internasional (hubungan antarmanusia yang berbeda budaya dan negara), dapat disebutkan  manusia-manusia antarbudaya.
     Konsep manusia antar budaya dikemukakan oleh William B. Gudykunst dan Young Yun Kim dalam buku mereka, Communicating with strangers: An approach to intercultural Communication (1984: 229-235). Menurut Gudykunst dan Kim, manusia antarbudaya adalah orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam proses antarbudaya yang kognisi, afeksi, dan perilakunya tidak terbatas, tetapi terus berkembang melewati parameter-parameter psikologis suatu budaya. Ia memiliki kepekaan budaya yang berkaitan erat dengan kmampuan berempati terhadap budaya tersebut.
     Sementara itu, menurut Adler (1982:389-391) mengatakan bahwa manusia multibudaya adalah orang yang identitas dan loyalitasnya melewati batas-batas kebangsaan dan yang komitmennya bertaut dngan suatu pandangan bahwa dunia ini adalah suatu komunitas global. Ia adalah orang yang secara intelektual dan emosional terikat kepada kesatuan fundamental semua manusia yang pada saat yang sama mengakui, menerima, dan menghargai perbedaan-perbedaan mendasar antara orang-orang yang berbeda budaya. Identitas manusia multibudaya tidak berlandaskan pada pemilikan yang mengisyaratkan memiliki atau dimiliki budaya, tetapi berlandaskan pada kesadaran diri yang mampu bernegosiasi tentang rumusan-rumusan realitas yang baru.
     Walsh(1973) mengemukakan “menjadi manusia universal tidaklah berarti seberapa banyak manusia itu tahu tapi seberapa dalam dan luas intelektualitas yang ia miliki dan bagaimana ia menghubugkannya dengan masalah-masalah penting yang universal.  Ia tidak menghilangkan perbedaan budaya, Ia berusaha memelihara apapun yang paling valid dan bernilai dalam setiap budaya . Menurut Walsh, ciri-ciri manusia universal itu adalah bahwa Ia menghormati segala budaya, memahami apa yang orang dari budaya lain pikirka, rasakan, dan percaya, serta menghargai perbedaan budaya yang ada.
     Uraian diatas sangat memberi penegasan bahwa menjadi manusia antar budaya sangat penting, untuk mengurangi kesalahpahaman antara orang yang berbeda budaya. Ia dapat pula menjadi penengah antara orang-orang yang berselisih paham, antara lain dengan menganalisis interaksi antar budaya selanjutnya. Dengan menjadi manusia antar budaya tidak berarti bahwa kita lalu kehilangan identitas kita sebagai warga dari bangsa dan budaya tertentu. Kita dapat berperilaku dengan cara-cara yang dapat diterima budaya orang lain tapi juga diterima budaya kita sendiri.
B.     Konflik Antar Bangsa dan Kesalahpahaman Antar Budaya
Sejarah telah menunjukan bahwa sebagaian konflik dan peperangan antarbangsa disebabkan karena para pemimpin bangsa yang satu tidak memahami dan menghargai budaya bangsa lain. Mereka etnosentrik (merasa budaya bangsanya sendiri lebih baik daripada budaya bangsa lain) dan punya prasangka buruk terhadap bangsalain. Contoh yang jelas dari etnosentrik adalah : kaum kulit putih yang menindas kaum kulit hitam di Afrika selatan dan bangsa yahudi yang menindas bangsa arab di palestina. Kedua bangsa ini merasa lebih mulia daripada bangsa-bangsa yang mereka kuasai.
Contoh 1 :
 

 

Gambar 1 penindasan terhadap kaum kulit hitam
Contoh 2 :
 

Gambar 2. penindasan terhadap
bangsa arab di Palestina

Dalam Taraf  yang rendah, konflik antarbangsa merupakan kesalahpahaman antara individu” yang berlainan bangsa. Sumber konflik atau kesalahpahaman yang lazim terjadi ini antara lain adalah stereotip-stereotip antarbangsa. Kitapun mempunyai stereotip dengan bangsa lain contoh yang kita pikirkan mengenai orang-orang America misalnya bahwa bangsa amercia adalah penganut seks bebas, cinta bebas antara sesame jenis, menghalalkan pernikahan sesama jenis, materialistic, individualistic,dan sebagainya. Sebenernya tidak semua orang amaerica demikian di amaerica pun terdapat orang-orang yang saleh dimana tidak menganut seks bebas, cinta bebas dan sebagainya. Contoh : masyarakat amish yang masih traditional, masyarakat amish adalah masyarakat petani yang mandiri mereka tinggal di beberapa bagian, mengenakan baju hitam, syal dan kerudung, dan tabu bagi mereka menggunakan alat-alat electronik.
Contoh gambar  seks bebas dan pernikahan sesama jenis:
 


 

Gambar 3 pernikahan sesama jenis
 
 

Gambar 4 bangsa amish

         Kesalahpahaman yang terjadi antara kita dan orang-orang barat pada umumnya dikarenakan kita sering menggunakan strategi komunikasi verbal dan non verbal yang ke Indonesia an. Misalnya menanyakan hal” yang bersifat pribadi, padahal orang barat sendiri merasa risih bila kita bertanya seputaran masalah pribadi mereka. Bila anak-anak barat suka memanggil nama depan kita padahal kita lebih tua dari anak tersebut jangan tersinggung karna anak-anak barat sudah terbiasa memanggil nama depan bahkan dengan ayah atau kakeknya sendiri beda dengan orang Indonesia yang menilai semua itu tidak sopan. Pada saat kita berbicara dengan orang yang lebih tua kita selalu menundukan pandangan, bila hal itu kita lakukan kepada orang barat meraka akan merasa tersinggung dikarnakan mereka menyangka kita orang-orang yang rendah diri, tidak jujur, atau menyembunyikan sesuatu padahal bagi kita menundukan kepala saat berbicara menandakan suatu penghormatan.
         Tidak hanya stereotip bangsa stereotip antar suku pun dapat kita temukan. Contoh : orang sunda suka basa-basi, lelakinya tukang kawin, wanitanya pesolek, orang padang pelit, orang jawa menganut aliran kepercayaan, orang batak kasar, dan sebagainya. Dalam komunikasi antarmanusia, stereotip pada umumnya akan menghambat ke efektifan komunikasi, bahkan pada gilirannya akan menghambat integritas manusia yang sudah pasti harus dilakukan dengan komunikasi itu sendiri. Stereotip dapat menimbulkan self fulfilling prophecy (nubuat yang dipenuhi sendiri). Apa yang kita persepsi sangat mempengaruhi apa yang kita harapkan. Jadi bila kita mengharapkan orang-orang lain berperilaku tertentu, kita dapat mengkomunikasikan pengharapan kita kepada mereka dengan cara-cara yang subtil, dan arena itu akan menambah kemukanan bahwa meraka pun akan berperilaku sebagaimana yang kita harapkan.
Contoh: jika anda lelaki sunda mempunyai pikiran bahwa lelaki sunda tidak cocok memiliki istri wanita jawa, anda akan khawatir anda tidak bahagia atau istri anda menguasai anda. Maka bila anda menikah dengan wanita jawa bisa jadi apa yang anda fikirkan terjadi anda tidak bahagia dan istri anda menguasai anda. Karena anda terkena self fulfilling prophechy.
Contoh lain konflik antar suku di Indonesia adalah konflik sampit, yaitu perpecahan antara madura dan suku dayak asli. Berawal dari warga imigran madura dari pulau madura diserang oleh sejumlah warga dayak. Konflik sampit mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga madura kehilangan tempat tinggal. Banyak juga warga madura yagn ditemukan dipenggal kepalanya oleh suku dayak.
         Oleh karena itu janganlah bergaul dengan membeda bedakan suku dan budaya, tidaklah bijaksana bagi kita untuk bersikap etnosetrik atau punya stereotip terhadap suku atau bangsa lain. Manusia antar budaya bukanlah suatu status melainkan suatu proses, dan budaya itu satu.
C.    Pendidikan Manusia Antar Budaya
Konflik antarbudaya disebabkan antara lain tidak adanya atau kurangnya pemahaman dan penghargaan atas budaya bangsa lain, maka salah satu usaha untuk menanggulangi konflik tersebut adalah dengan mendidik manusia-manusia antarbudaya. Melalui pendidikan ini kita dapat menciptakan generasi-generasi baru yang tidak terkungkung oleh perspektif nasional, rasial, etnik dan, teritorial. Kita harus mengganti cara-cara berpikir dengan pandangan-pandangan yang lebih sesuai dengan realitas-realitas dan tuntutan-tuntutan internasional.
Pendidikan yang dimaksud di sini bisa formal dan bisa juga informal. Pelajaran bahasa asing studi etnik komunikasi antarbudaya adalah bidang-bidang studi yang cukup penting diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi. Penting pula pertukaran siswa,mahasiswa, ilmuwan, artis dan olahragawan antarbangsa. Bidang-bidang studi di atas penting tidak hanya bagi orang-orang yang dikirim keluar negri, tetapi juga bagi orang-orang asing seperti para wartawan, para pegawai perusahaan asing dan karyawan-karyawan hotel berbintang yang menerima banyak tamu asing.
Itu adalah usaha-usaha yang perlu dilakukan terutama untuk membentuk manusia-manusia antarbudaya tingkat internasional.
Untuk membentuk manusia-manusia antarbudaya tingkat nasional, perlu dilakukan usaha-usaha lain, seperti :
1.      Penggunaan bahasa nasional di forum-forum resmi : lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, kantor swasta, dan sebagainya.
2.      Penyajian kebudayaan (kesenian) yang adil melalui media elektronik nasional khususnya televisi dan di forum-forum internasional.
3.      Sosialisasi merata di lembaga-lembaga pendidikan, kantor pemerintahan dan swasta dengan menerima mahasiswa dan pegawai yang berkompeten tanpa memperdulikan apa suku mereka.
4.      Kontak antarsuku melalui pertukaran pemuda, pelajar, mahasiswa, pegawai (termasuk guru dan dosen) antarpropinsi, paling tidak untuk suatu periode tertentu.
5.      Perkawinan antarsuku sepanjang orang-orang yang berbeda suku tersebut mempunyai kecocokan dalam segi-segi yang penting, contohnya dalam agamanya.
6.      Pembangunan daerah yang merata oleh pemerintah.
Usaha-usaha di atas tentunya tidak dapat dilakukan secara individu melainkan bersama-sama dengan lembaga-lembaga yang berwenang, terutama pemerintah. Namun sebagai awal dari usaha-usaha ini, kita secara pribadi melakukan apa yang bisa kita kerjakan untuk negara ini.
D.    Memahami Keanekaragaman Budaya dan Kesadaran AntarBudaya
Perbedaan dan keanekaragaman adalah sesuatu yang alamiah. Setiap orang setiap bangsa memiliki budaya yang berbeda-beda. Walaupun dunia terasa menyempit dan semakin memudarnya batas-batas negara karena kemajuan teknologi, perbedaan dan keanekaragaman akan tetap ada. Orang-orang dengan budaya yang berbeda memproses informasi dengan cara yang berbeda, menilai perlakuan secara berbeda dan mengukur dalam pola yang berbeda pula. Ketidakpekaan atas perbedaan budaya bisa menimbulkan masalah yang serius (Mitchel, 2011).
Dewasa ini kebutuhan untuk mempelajari komunikasi antar budaya semakin penting karena semakin banyak orang-orang yang datang ke kota, sehingga komunikasi antar budaya ini akan lebih sering terjadi di perkotaan. Oleh karena itu, menjadi manusia antar budaya merupakan hal yang tepat untruk menciptakan sebuah interaksi yang harmonis, meskipun menjadi manusia antar budaya bukanlah suatu status melainkan suatu proses menjadi, ini bukanlah suatu keadaan melainkan suatu pencarian, namun menjadi manusia antar budaya mampu merubah pandangan kita tentang hakikat perbedaan sebagai sebuah nuansa keindahan.

By: Tian

Diberdayakan oleh Blogger.