PEMBAHASAN
A.
Batasan
dan Peranan Manusia Antar Budaya
Konsep manusia
budaya sangat penting , dimana kemajuan tknologi juga mendukung untuk kita
mengenal lebih luas tentang budaya lain. Perkembangan jaringan komunikasi dan
meningkatnya jumlah orang yang berkunjung dan menetap telah menumbuhkan
kesadaran akan perlunya memahami budaya orang lain. Keberhasilan seorang
diplomat, pegawai, pengusaha, tidak lepas dari penguasaan dalam mengatasi
masalah budaya. Mereka yang dapat mengatasi masalah budaya secara efektif
inilah baik dalam konteks nasional (hubungan antar manusia yang berbeda budaya
dalam suatu negara) ataupun terlebih lagi dalam konteks internasional (hubungan
antarmanusia yang berbeda budaya dan negara), dapat disebutkan manusia-manusia antarbudaya.
Konsep
manusia antar budaya dikemukakan oleh William B. Gudykunst dan Young Yun Kim
dalam buku mereka, Communicating with strangers: An approach to intercultural
Communication (1984: 229-235). Menurut Gudykunst dan Kim, manusia antarbudaya
adalah orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam proses antarbudaya yang
kognisi, afeksi, dan perilakunya tidak terbatas, tetapi terus berkembang
melewati parameter-parameter psikologis suatu budaya. Ia memiliki kepekaan
budaya yang berkaitan erat dengan kmampuan berempati terhadap budaya tersebut.
Sementara
itu, menurut Adler (1982:389-391) mengatakan bahwa manusia multibudaya adalah
orang yang identitas dan loyalitasnya melewati batas-batas kebangsaan dan yang
komitmennya bertaut dngan suatu pandangan bahwa dunia ini adalah suatu
komunitas global. Ia adalah orang yang secara intelektual dan emosional terikat
kepada kesatuan fundamental semua manusia yang pada saat yang sama mengakui,
menerima, dan menghargai perbedaan-perbedaan mendasar antara orang-orang yang
berbeda budaya. Identitas manusia multibudaya tidak berlandaskan pada pemilikan
yang mengisyaratkan memiliki atau dimiliki budaya, tetapi berlandaskan pada
kesadaran diri yang mampu bernegosiasi tentang rumusan-rumusan realitas yang
baru.
Walsh(1973)
mengemukakan “menjadi manusia universal tidaklah berarti seberapa banyak
manusia itu tahu tapi seberapa dalam dan luas intelektualitas yang ia miliki
dan bagaimana ia menghubugkannya dengan masalah-masalah penting yang
universal. Ia tidak menghilangkan
perbedaan budaya, Ia berusaha memelihara apapun yang paling valid dan bernilai
dalam setiap budaya . Menurut Walsh, ciri-ciri manusia universal itu adalah
bahwa Ia menghormati segala budaya, memahami apa yang orang dari budaya lain
pikirka, rasakan, dan percaya, serta menghargai perbedaan budaya yang ada.
Uraian
diatas sangat memberi penegasan bahwa menjadi manusia antar budaya sangat
penting, untuk mengurangi kesalahpahaman antara orang yang berbeda budaya. Ia
dapat pula menjadi penengah antara orang-orang yang berselisih paham, antara
lain dengan menganalisis interaksi antar budaya selanjutnya. Dengan menjadi
manusia antar budaya tidak berarti bahwa kita lalu kehilangan identitas kita
sebagai warga dari bangsa dan budaya tertentu. Kita dapat berperilaku dengan
cara-cara yang dapat diterima budaya orang lain tapi juga diterima budaya kita
sendiri.
B.
Konflik
Antar Bangsa dan Kesalahpahaman Antar Budaya
Sejarah
telah menunjukan bahwa sebagaian konflik dan peperangan antarbangsa disebabkan
karena para pemimpin bangsa yang satu tidak memahami dan menghargai budaya
bangsa lain. Mereka etnosentrik (merasa budaya bangsanya sendiri lebih baik
daripada budaya bangsa lain) dan punya prasangka buruk terhadap bangsalain.
Contoh yang jelas dari etnosentrik adalah : kaum kulit putih yang menindas kaum
kulit hitam di Afrika selatan dan bangsa yahudi yang menindas bangsa arab di
palestina. Kedua bangsa ini merasa lebih mulia daripada bangsa-bangsa yang
mereka kuasai.
Contoh
1 :
Gambar
1 penindasan terhadap kaum kulit hitam
Contoh
2 :
Gambar 2. penindasan terhadap
bangsa arab di Palestina
Dalam Taraf yang rendah, konflik antarbangsa merupakan
kesalahpahaman antara individu” yang berlainan bangsa. Sumber konflik atau
kesalahpahaman yang lazim terjadi ini antara lain adalah stereotip-stereotip
antarbangsa. Kitapun mempunyai stereotip dengan bangsa lain contoh yang kita
pikirkan mengenai orang-orang America misalnya bahwa bangsa amercia adalah
penganut seks bebas, cinta bebas antara sesame jenis, menghalalkan pernikahan
sesama jenis, materialistic, individualistic,dan sebagainya. Sebenernya tidak
semua orang amaerica demikian di amaerica pun terdapat orang-orang yang saleh
dimana tidak menganut seks bebas, cinta bebas dan sebagainya. Contoh :
masyarakat amish yang masih traditional, masyarakat amish adalah masyarakat
petani yang mandiri mereka tinggal di beberapa bagian, mengenakan baju hitam,
syal dan kerudung, dan tabu bagi mereka menggunakan alat-alat electronik.
Contoh
gambar seks bebas dan pernikahan sesama
jenis:
Gambar 3 pernikahan
sesama jenis
Gambar 4 bangsa
amish
Kesalahpahaman
yang terjadi antara kita dan orang-orang barat pada umumnya dikarenakan kita
sering menggunakan strategi komunikasi verbal dan non verbal yang ke Indonesia
an. Misalnya menanyakan hal” yang bersifat pribadi, padahal orang barat sendiri
merasa risih bila kita bertanya seputaran masalah pribadi mereka. Bila
anak-anak barat suka memanggil nama depan kita padahal kita lebih tua dari anak
tersebut jangan tersinggung karna anak-anak barat sudah terbiasa memanggil nama
depan bahkan dengan ayah atau kakeknya sendiri beda dengan orang Indonesia yang
menilai semua itu tidak sopan. Pada saat kita berbicara dengan orang yang lebih
tua kita selalu menundukan pandangan, bila hal itu kita lakukan kepada orang
barat meraka akan merasa tersinggung dikarnakan mereka menyangka kita
orang-orang yang rendah diri, tidak jujur, atau menyembunyikan sesuatu padahal
bagi kita menundukan kepala saat berbicara menandakan suatu penghormatan.
Tidak
hanya stereotip bangsa stereotip antar suku pun dapat kita temukan. Contoh :
orang sunda suka basa-basi, lelakinya tukang kawin, wanitanya pesolek, orang
padang pelit, orang jawa menganut aliran kepercayaan, orang batak kasar, dan
sebagainya. Dalam komunikasi antarmanusia, stereotip pada umumnya akan
menghambat ke efektifan komunikasi, bahkan pada gilirannya akan menghambat
integritas manusia yang sudah pasti harus dilakukan dengan komunikasi itu
sendiri. Stereotip dapat menimbulkan self fulfilling prophecy (nubuat yang
dipenuhi sendiri). Apa yang kita persepsi sangat mempengaruhi apa yang kita
harapkan. Jadi bila kita mengharapkan orang-orang lain berperilaku tertentu,
kita dapat mengkomunikasikan pengharapan kita kepada mereka dengan cara-cara
yang subtil, dan arena itu akan menambah kemukanan bahwa meraka pun akan berperilaku
sebagaimana yang kita harapkan.
Contoh: jika anda lelaki sunda mempunyai
pikiran bahwa lelaki sunda tidak cocok memiliki istri wanita jawa, anda akan
khawatir anda tidak bahagia atau istri anda menguasai anda. Maka bila anda
menikah dengan wanita jawa bisa jadi apa yang anda fikirkan terjadi anda tidak
bahagia dan istri anda menguasai anda. Karena anda terkena self fulfilling
prophechy.
Contoh lain konflik antar suku di
Indonesia adalah konflik sampit,
yaitu perpecahan antara madura dan suku dayak asli. Berawal dari warga imigran
madura dari pulau madura diserang oleh sejumlah warga dayak. Konflik sampit
mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga madura
kehilangan tempat tinggal. Banyak juga warga madura yagn ditemukan dipenggal
kepalanya oleh suku dayak.
Oleh
karena itu janganlah bergaul dengan membeda bedakan suku dan budaya, tidaklah
bijaksana bagi kita untuk bersikap etnosetrik atau punya stereotip terhadap
suku atau bangsa lain. Manusia antar budaya bukanlah suatu status melainkan
suatu proses, dan budaya itu satu.
C.
Pendidikan
Manusia Antar Budaya
Konflik antarbudaya disebabkan antara
lain tidak adanya atau kurangnya pemahaman dan penghargaan atas budaya bangsa
lain, maka salah satu usaha untuk menanggulangi konflik tersebut adalah dengan
mendidik manusia-manusia antarbudaya. Melalui pendidikan ini kita dapat
menciptakan generasi-generasi baru yang tidak terkungkung oleh perspektif
nasional, rasial, etnik dan, teritorial. Kita harus mengganti cara-cara
berpikir dengan pandangan-pandangan yang lebih sesuai dengan realitas-realitas
dan tuntutan-tuntutan internasional.
Pendidikan
yang dimaksud di sini bisa formal dan bisa juga informal. Pelajaran bahasa
asing studi etnik komunikasi antarbudaya adalah bidang-bidang studi yang cukup
penting diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi. Penting pula pertukaran
siswa,mahasiswa, ilmuwan, artis dan olahragawan antarbangsa. Bidang-bidang
studi di atas penting tidak hanya bagi orang-orang yang dikirim keluar negri,
tetapi juga bagi orang-orang asing seperti para wartawan, para pegawai
perusahaan asing dan karyawan-karyawan hotel berbintang yang menerima banyak
tamu asing.
Itu
adalah usaha-usaha yang perlu dilakukan terutama untuk membentuk
manusia-manusia antarbudaya tingkat internasional.
Untuk
membentuk manusia-manusia antarbudaya tingkat nasional, perlu dilakukan
usaha-usaha lain, seperti :
1. Penggunaan
bahasa nasional di forum-forum resmi : lembaga pendidikan, kantor pemerintahan,
kantor swasta, dan sebagainya.
2. Penyajian
kebudayaan (kesenian) yang adil melalui media elektronik nasional khususnya
televisi dan di forum-forum internasional.
3. Sosialisasi
merata di lembaga-lembaga pendidikan, kantor pemerintahan dan swasta dengan
menerima mahasiswa dan pegawai yang berkompeten tanpa memperdulikan apa suku
mereka.
4. Kontak
antarsuku melalui pertukaran pemuda, pelajar, mahasiswa, pegawai (termasuk guru
dan dosen) antarpropinsi, paling tidak untuk suatu periode tertentu.
5. Perkawinan
antarsuku sepanjang orang-orang yang berbeda suku tersebut mempunyai kecocokan
dalam segi-segi yang penting, contohnya dalam agamanya.
6. Pembangunan
daerah yang merata oleh pemerintah.
Usaha-usaha
di atas tentunya tidak dapat dilakukan secara individu melainkan bersama-sama
dengan lembaga-lembaga yang berwenang, terutama pemerintah. Namun sebagai awal
dari usaha-usaha ini, kita secara pribadi melakukan apa yang bisa kita kerjakan
untuk negara ini.
D.
Memahami
Keanekaragaman Budaya dan Kesadaran AntarBudaya
Perbedaan dan
keanekaragaman adalah sesuatu yang alamiah. Setiap orang setiap bangsa memiliki
budaya yang berbeda-beda. Walaupun dunia terasa menyempit dan semakin
memudarnya batas-batas negara karena kemajuan teknologi, perbedaan dan
keanekaragaman akan tetap ada. Orang-orang dengan budaya yang berbeda memproses
informasi dengan cara yang berbeda, menilai perlakuan secara berbeda dan
mengukur dalam pola yang berbeda pula. Ketidakpekaan atas perbedaan budaya bisa
menimbulkan masalah yang serius (Mitchel, 2011).
Dewasa ini kebutuhan
untuk mempelajari komunikasi antar budaya semakin penting karena semakin banyak
orang-orang yang datang ke kota, sehingga komunikasi antar budaya ini akan
lebih sering terjadi di perkotaan. Oleh karena itu, menjadi manusia antar
budaya merupakan hal yang tepat untruk menciptakan sebuah interaksi yang
harmonis, meskipun menjadi manusia antar budaya bukanlah suatu status melainkan
suatu proses menjadi, ini bukanlah suatu keadaan melainkan suatu pencarian,
namun menjadi manusia antar budaya mampu merubah pandangan kita tentang hakikat
perbedaan sebagai sebuah nuansa keindahan.
By: Tian

0 komentar:
Posting Komentar