ANALISIS FILM "99 CAHAYA DI LANGIT EROPA"



BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Sinopsis Film
Film 99 Cahaya di langit Eropa mengungkap rahasia sejarah perkembangan islam di belahan Eropa lainnya, khususnya Cordoba, Istanbul, dan Turki.
Film ini mengisahkan pengalaman seorang jurnalis asal Indonesia yang sedang menemani suaminya menjalani kuliah doktorat di Vienna, Austria. Mengishkan bagaimana mereka beradaptasi, bertemu dengan berbagai sahabat hingga akhirnya menuntun mereka kepada jejak-jejak agama Islam di Benua Eropa yang dibawa oleh bangsa Turki di era Merzifonlu Kara Mustofa Pasha dari kesultanan Utsmaniyah.  bagian film ini menjawab beberapa hal yang merupakan pelengkap akhir cerita seperti ; persahabatan antara Khan dengan Stefan yang sebelumnya sering berseteru , pertemuan kembali dengan Fatma Pasha di Turki yang sebelumnya menghilang tanpa berita serta berakhir manisnya perjalanan pendidikan Rangga dengan keberadaan Maarja dalam kehidupan mereka di Eropa.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Identitas Etnik Tokoh Film
            Acha Septriasa sebagai Hanum Salsabiela Rais seorang jurnalis Indonesia dan merupakan wanita muslim namun belum mengenakan hijab. Hanum merupakan istri dari Rangga (Abimana) yang sedang kuliah doktorat, dan kemudian mulai mengenal sejarah dan pengaruh Islam yang dibawa oleh bangsa Turki.
            Abimana Aryasatya sebagai Rangga Almahendra seorang tokoh pria muslim yang menjalani kuliah doktorat di Universitas di Vienna Austria. Ia sosok yang setia dengan istrinya. Abimana adalah sosok pria yang baik dan sopan terhadap wanita. Namun di film bagian ke 2 ini, Ia diuji dengan kehadiran Maarja yang menyukainya.
            Raline Shah sebagai Fatma Pasha, wanita muslim berdarah Turki yang dikenal   Hanum saat di Austria.
Geccha Tavvara sebagai Asye Pasha, puteri dari Fatma Pasha.
Marissa Nasution sebagai Maarja seorang wanita non muslim yang pada awalnya berkonflik dengan Rangga dan Khan karena berbeda sudut pandang. Maarja merupakan teman kuliah Rangga dan Khan, dimana Maarja menyukai Rangga yang telah memiliki istri.
Nino Fernandez sebagai Stefan adalah pria atheis yang merupakan sahabat Maarja dan rekan kuliah Abimana. Stefan juga memiliki gaya hidup yang bebas, dan kurang menerima hukum-hukum dalam islam.
Alex Abbad sebagai Khan adalah sahabat Abimana yang merupakan seorang pria muslim dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama, serta lebih kaku dalam urusan agama.
Dewi Sandra sebagai Marion Latimer seorang Mualaf yang bekerja  di Arab World       Institute Paris sebagai ilmuwan.
Fatin Shidqia sebagai Fatin

2.2       Makna Pesan Film                                 
            Adapun pesan-pesan-pesan moral yang terkandung didalamnya adalah kesetiaan    seorang suami kepada istrinya walaupun di tempa godaan. Hal ini dapat dilihat pada         komunikasi non verbal Rangga yang menghindari ajakan dari Maarja, namun tidak pula berlaku kasar kepada wanita. Rangga menolak dengan cara yang sopan, santun,             tidak dengan amarah. Pesan moral lain ditampilkan oleh tokoh Hanum yang taat dan         patuh pada suami, menemani dalam suka dan duka, serta memahami kesalahpahaman antar budaya yang terjadi dalam film tersebut. Namun menurut saya,hal paling menonjol adalah membuat kita lebih bersyukur atas kebesaran Allah SWT yang telah             menciptakan alam semesta begitu indahnya. Membuat saya sebagai muslim bangga            dan semakin ingin mengkaji agama dengan lebih.

2.3       Kesalahpahaman dalam Komunikasi
            Kesalahpahaman yang terdapat dalam film “99 Cahaya di langit Eropa part 2” ini adalah diantaranya :
1.      Pertikaian antara Hanum dengan Rangga (suaminya) dikarenakan Hanum mendengar percakapan Khan dan Stefan di kampus. Hanum merasa cemburu karena sikap Maarja kepada Rangga. Hanum juga memergoki Maarja sedang memeluk Rangga suaminya di perpustakaan. Terlihat dari raut wajah Hanum yang marah dan sedih karena Rangga lupa hari ulang tahunnya, ditambah dengan perkataan Stefan yang mengatakan bahwa Maarja menyentuh Rangga. Rangga mencoba menjelaskan bahwa menurut Maarja hal tersebut hal lumrah bagi kebudayaan mereka, apabila bertemu cipika dan cipiki kepada rekannya. Namun Hanum tidak dapat menerima alasan Rangga yang menurutnya itu tidak dibenarkan dalam agama Islam karena bukan muhrim.
“izinkan aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi...” kata Rangga. Hanum menjawab “Apa?! Mau menjelaskan apa lagi, kejadian (pelukan) itu sudah jelas.” Sentak hanum. Pertikaian pun terjadi.
2.      Konflik lain dari Stefan dan Khan yang selalu bertengkar karena beda pendapat. Awalnya karena Stephan selalu memanaskan daging babi kedalam microwave, dan Khan selalu memanaskan kari ayam di microwave dimana Stefan tidak menyukai baunya. Lalu dibuang kari ayam tersebut ke tempat sampah. Pertengkaran pun mulai dan terjadi di kampus, dan Stefan mengatakan bahwa Khan terlalu kaku dalam hal agama, tidak seperti Rangga yang masih bisa mentolerir perbedaan pendapat dan budaya. Khan dengan islam yang sangat taat dan patuh pada aturan, akan sangat sulit menerima pendapat Stephan yang tidak memiliki agama (atheis), jadi perselisihan pun sering muncul.



2.4        Etnosentrisme
      Dalam film ini, etnosentris lebih ditonjolkan oleh peran Stephan yang selalu            bertengkar dengan Khan karena beda pendapat dan budaya. Mulai dari masalah   makanan yang dipanaskan di microwave, Stephan menganggap bahwa Khan sangat             kaku dan tidak bisa mentolerir budaya lain. Selain itu pertanyaan yang dilontarkan            oleh Stephan kepada Rangga yang cenderung meremehkan agama Islam, seperti pada        saat Ia   bertanya mengenai poligami yang diperbolehkan bagi laki-laki, namun tidak           bagi perempuan. Serta perempuan yang harus menutupi tubuhnya dengan pakaian        yang rapat, yang menurutnya tidak adil.

2.5       Analisis Teori
      Semiotika John Fiske
John Fiske berpendapat bahwa terdapat tiga bidang studi utama dalam semiotika, yaitu:
a.       Tanda itu sendiri, terdiri atas studi tentang berbagai tanda.
b.      Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda, mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau budaya untuk mengeksploitasi saluran komunikasi yang ada.
c.       Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja, penggunaan kode-kode dan tanda-tanda untuk keberadaan dan bentuknya sendiri (Vera, 2014:32).

Pertama
Realitas

Dalam bahasa tulis, seperti dokumen wawancara transkrip dan sebagainya. Dalam televisi seperti perilaku, make up, pakaian, ucapan, gerak-gerik dan sebagainya
Kedua
Representasi

Elemen tadi ditandakan secara teknis. Dalam bahasa tulis seperti kata, proposisi, kalimat, foto, caption, grafik, dan sebagainya. Dalam TV seperti kamera, musik, tata cahaya, dan lain-lain. Elemen-elemen tersebut ditransmisikan ke dalam kode representasional yang memasukkan di antaranya bagaimana objek digambarkan (karakter, narasi, setting, dialog, dan lain-lain).
Ketiga
Ideologi

Semua elemen diorganisasikan dalam koheren dan kode kode ideologi, seperti individualisme, liberalisme, sosialisme, patraki, ras, kelas, materialisme, dan sebagainya.
Sumber: I.S. Wahyu Wibowo, semiotika komunikasi, Jakarta, Mitra Wacana Media, 2011, hal 123

Berdasarkan budaya diatas, bila dianalisis dengan film ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
Pertama
Realitas

Pertanyaan Stephan yang cenderung meremehkan agama Islam
Kedua
Representasi

Karakter Stephan yang cuek dan bertindak sesuka hati sesuai keinginannya sendiri
Ketiga
Ideologi

Stephan memiliki paham atheis dimana Ia menganggap budaya Islam ini tidak adil dan banyak aturan

Pertama
Realitas

Saat Rangga Azan di menara Eiffel
Kedua
Representasi

Adegan lebih tajam dengan kamera menyorot ke pemandangan kota Paris, dan suara azan didengungkan dengan volume keras dan jelas.
Ketiga
Ideologi

Ideologi yang ingin ditonjolkan disini adalah Azan membuat kota Paris menjadi syahdu dan tenang apabila dikumandangkan adzan diseluruh penjuru kota. Islam membuat hati damai bagi siapa saja yang mengenalnya. Salah satunya dengan mendengarkan seruan azan.

Pertama
Realitas

Pemandangan kota Eropa, dan peninggalan sejarah Islam (lukisan Bunda Maria dengan Lafadz Tauhid)
Kedua
Representasi

Pemandangan yang disorot sedemikian Indahnya, termasuk Eiffel,dan peninggalan sejarah Islam Bunda Maria yang baru diketahui oleh Hanum dinyatakan dengan kagum.
Ketiga
Ideologi

Dibalik kota modern dan kota Indah seperti di Paris, masih menyimpan sejarah Islam yang belum diketahui oleh banyak orang. Ideologi yang ingin disampaikan oleh sutradara disini adalah bahwa kekuasaan Allah SWT ada dimana-mana, dan tanpa kita sadar ataupun tanpa kita duga-duga.

2.5        Alkulturasi/Asimilasi
            Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu di hadapkan pada kebudayaan asing, lambat laun kebudayaan asing tersebut diterima dan diolah kedalam kebudayaannya sendiri tanpa kehilangan budaya asing tersebut.
Akulturasi yang terjadi di film ini menurut saya adalah pada sosok Rangga, yaitu menjadi manusia antar budaya. Dimana Rangga menghormati budaya lain tetapi tetap teguh pada budayanya sendiri. Pada saat Maarja menyentuh tangan Rangga yang padahal dapat membatalkan wudhunya, namun Rangga tetap sabar dan tetap menunjukkan karakter dan kekuatan Islam bahwa agama Islam itu toleran dan menghargai orang lain serta tidak menyukai kekerasan. Selain itu, akulturasi ditunjukkan dari bahasa yang digunakan oleh tokohnya pada saat di luar negeri, Hanum dan Rangga fasih menggunakan bahasa Eropa dan Turki, namun tetap menggunakan bahasa Indonesia.
Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Asimilasi ditandai dengan oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan, dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Contoh asimilasi pada film ini diantaranya adalah pada saat Hanum sujud dilantai bekas masjid cordoba namun dimarahi dan dilarang oleh satpam cordoba,  dalam kesalahpahaman ini Rangga pun menjadi penengah dalam menyelesaikan perbedaan budaya ini.
Asimilasi disini adalah penggabungan kebudayaan islam, yaitu masjid cordoba yang sebelumnya adalah tempat muskim beribadah namun berubah fungsi menjadi katedral dimana aktifitas ibadah shalat dilarang keras disana. Ini adalah proses asimilasi dimana kebudayaan asli sebelumnya digantikan dengan kebudayaan baru.

2.7       Analisis Solusi
            Berdasarkan konflik-konflik yang terjadi dalam film ini, sebagian besar karena       perbedaan budaya, yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dalam masalah ini, pendekatan simpati dan empati memang paling efektif. Dimana kita mencoba memahami budaya asing, dengan menolak secara halus tanpa ada kekerasan, mencoba menjelaskan dengan penjelasan yang masuk akal dan sesuai hukum agama/budaya sendiri. Selain itu, bisa menunjukkan kepada orang yang berbeda budaya dengan bersikap baik tanpa kekerasan ataupun marah kepada lawan bicara yang berbeda pendapat. Karena dasarnya, islam sangat menghargai dan mentolerir budaya lain. Hal ini sudah dari zaman Nabi Muhammad SAW dahulu, yang membalas kejahatan musuhnya dengan kebaikan. Dan berdakwah dengan kelembutan dan ketulusan tnpa ada paksaan untuk mengikuti ajaran Beliau.


 

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa film “99 Cahaya di Langit Eropa” merupakan garapan yang sangat bagus dengan nilai intrinsik dan ekstrinsik dari berbagai budaya. Kita dapat memahami dan mengetahui sejarah islam yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Walaupun terdapat banyak pertikaian didalamnya, namun Islam tidak mengajarkan untuk berbuat kekerasan kepada orang lain. Bahkan sebaliknya, membalas kejahatan dengan kebaikan. Konflik yang ditampilkan juga sangat mencerminkan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Stereotipe yang mengatakan bahwa muslim aneh karena melarang bersentuhan selain muhrimnya, kemudian tentang berpoligami, dll juga cukup memberi paelajaran bahwa hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan/dibenci oleh Allah SWT.
Analisis teori menggunakan teori semiotika John Fiske ini lebih mengungkapkan tentang ideologi yang ditampilkan melalui realitas-realitas yang ada. Bila dilihat dari sisi komunikasinya, tokoh utama dalam film ini telah mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia antar budaya, manusia multicutural yang bisa hidup berdampingan walaupun berbeda budaya dan keyakinan dengan saling menghargai.





DAFTAR PUSTAKA

Dari Buku

Vera, Nawiroh. 2014. Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi-Aplikasi Praktis bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Nasrullah, Rulli. 2012.  Komunikasi  Antar  Budaya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Dari Website

id.m.wikipedia.org/wiki/99_cahaya_di_langit_eropa_(film)

1 komentar:

Rohliana mengatakan...

Kak.. ada script lengkap film 99 cahaya dilangit eropa tidak?

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.